Di balik lebatnya hutan hujan tropis di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Asia Tenggara, hidup seekor makhluk kecil bermata besar yang jarang terlihat manusia. Ia bergerak pelan, hampir tanpa suara, bersembunyi di balik dedaunan dan cabang-cabang pohon. Hewan itu dikenal sebagai Kungkang Sunda atau dalam dunia ilmiah disebut Nycticebus javanicus. Meski terlihat lucu dan menggemaskan, kungkang adalah salah satu primata paling terancam punah di dunia.
Mengenal Kungkang Sunda

Kungkang Sunda merupakan spesies primata nokturnal, artinya aktif pada malam hari. Hewan ini memiliki mata besar yang berfungsi menangkap cahaya dalam kondisi gelap, memungkinkan mereka melihat dengan baik di tengah malam. Tubuhnya kecil dan gemuk dengan bulu tebal berwarna cokelat keabu-abuan, serta wajah yang tampak seperti sedang tersenyum.
Tidak seperti monyet atau kera yang lincah melompat, kungkang bergerak sangat lambat. Gerakannya yang perlahan inilah yang membuatnya disebut “slow loris” dalam bahasa Inggris. Namun jangan tertipu oleh kelambanannya—kira-kira ia memiliki kekuatan cengkeraman yang luar biasa kuat, sehingga mampu bergelantungan berjam-jam di dahan pohon Wikipedia.
Habitat dan Persebaran
Kungkang Sunda merupakan spesies endemik Pulau Jawa. Artinya, ia hanya dapat ditemukan secara alami di wilayah ini dan tidak di tempat lain di dunia. Habitat alaminya adalah hutan hujan tropis, hutan bambu, dan hutan sekunder yang masih memiliki pepohonan tinggi.
Sayangnya, luas habitat kungkang terus menyusut akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan pembangunan manusia. Banyak hutan ditebang untuk dijadikan perkebunan, pemukiman, atau infrastruktur, memaksa kungkang kehilangan tempat tinggalnya.
Makanan dan Perilaku
Kungkang adalah hewan omnivora, tetapi lebih cenderung memakan getah pohon, buah, nektar, dan serangga kecil. Mereka memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai penyebar biji dan pengendali populasi serangga.
Karena aktif di malam hari, kungkang menghabiskan siangnya untuk tidur di dahan-dahan pohon. Mereka hidup soliter dan jarang berinteraksi kecuali saat musim kawin atau saat induk merawat anaknya.
Satu-satunya Primata Berbisa
Fakta paling mengejutkan tentang kungkang adalah bahwa ia merupakan satu-satunya primata berbisa di dunia. Kungkang memiliki kelenjar di sikunya yang menghasilkan racun. Saat merasa terancam, mereka menjilat kelenjar tersebut dan mencampurkan racun dengan air liur, lalu menggigit musuhnya.
Racun ini cukup kuat untuk menyebabkan reaksi alergi serius pada manusia dan bahkan bisa mematikan bagi hewan kecil. Ini merupakan mekanisme pertahanan alami yang sangat langka di dunia primata.
Ancaman Terbesar: Perdagangan Ilegal
Salah satu ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup kungkang Sunda adalah perdagangan satwa liar. Banyak orang tertarik memelihara kungkang karena wajahnya yang lucu dan tingkah lakunya yang unik. Namun, kungkang bukanlah hewan peliharaan.
Dalam proses penangkapan, pedagang sering mencabut gigi kungkang dengan tang agar tidak menggigit. Proses ini sangat menyakitkan dan sering menyebabkan infeksi hingga kematian. Selain itu, kungkang yang dipelihara manusia biasanya tidak mendapatkan makanan dan lingkungan yang sesuai, sehingga hidupnya menjadi sangat menderita.
Status Konservasi
Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature), Kungkang Sunda berstatus Critically Endangered atau Kritis, yang berarti satu langkah lagi menuju kepunahan di alam liar.
Di Indonesia, kungkang dilindungi oleh undang-undang. Menangkap, memelihara, atau memperjualbelikan kungkang dapat dikenai hukuman pidana. Namun, lemahnya penegakan hukum masih membuat praktik ilegal ini terus terjadi.
Upaya Pelestarian
Berbagai lembaga konservasi, seperti International Animal Rescue (IAR) dan ProFauna, bekerja keras menyelamatkan kungkang dari perdagangan ilegal. Mereka merawat kungkang yang disita, merehabilitasi kondisi fisik dan mentalnya, lalu melepaskannya kembali ke habitat yang aman.
Selain itu, edukasi masyarakat juga sangat penting. Semakin banyak orang yang memahami bahwa kungkang bukan hewan peliharaan, semakin kecil permintaan pasar gelap terhadap hewan ini.
Mengapa Kungkang Penting?

Kungkang bukan hanya makhluk lucu—ia adalah bagian penting dari rantai kehidupan hutan. Dengan menyebarkan biji dan menjaga keseimbangan populasi serangga, kungkang membantu menjaga kesehatan ekosistem.
Jika kungkang punah, dampaknya akan terasa pada seluruh ekosistem hutan. Hilangnya satu spesies bisa memicu ketidakseimbangan yang mempengaruhi tumbuhan, serangga, dan bahkan manusia.
Peran Kita sebagai Manusia
Kita semua memiliki peran dalam melindungi kungkang Sunda. Tidak membeli atau memelihara satwa liar, melaporkan perdagangan ilegal, dan mendukung organisasi konservasi adalah langkah nyata yang bisa dilakukan siapa saja.
Di era digital, kita juga bisa membantu dengan menyebarkan informasi yang benar. Setiap kali melihat konten yang menampilkan kungkang sebagai hewan peliharaan, kita bisa mengedukasi orang lain bahwa hal tersebut salah dan berbahaya bagi hewan tersebut.
Kungkang Sunda dalam Budaya dan Mitos Lokal
Di beberapa daerah di Pulau Jawa, kungkang dikenal dengan berbagai sebutan seperti “kukang” atau “malu-malu”. Masyarakat tradisional dulu memandang hewan ini sebagai makhluk yang memiliki kekuatan mistis. Ada yang percaya bahwa kungkang dapat membawa keberuntungan, sementara yang lain menganggapnya sebagai pertanda buruk jika muncul di dekat pemukiman.
Sayangnya, kepercayaan ini justru sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperdagangkan bagian tubuh kungkang sebagai jimat atau obat tradisional. Padahal, tidak ada bukti ilmiah bahwa kungkang memiliki kekuatan supranatural. Praktik ini hanya memperparah ancaman terhadap kelangsungan hidupnya.
Proses Rehabilitasi Kungkang yang Diselamatkan
Kungkang yang disita dari perdagangan ilegal tidak bisa langsung dilepasliarkan. Mereka harus melalui proses rehabilitasi yang panjang dan kompleks. Di pusat penyelamatan satwa, kungkang menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan gigi (jika masih memungkinkan), serta terapi perilaku agar bisa kembali hidup liar.
Kungkang yang lama hidup di kandang sering kehilangan naluri alaminya, seperti kemampuan mencari makan dan menghindari predator. Oleh karena itu, mereka ditempatkan di kandang khusus yang menyerupai hutan, lengkap dengan pohon dan makanan alami. Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Kungkang
Selain perburuan dan perdagangan ilegal, perubahan iklim juga menjadi ancaman besar. Perubahan pola hujan dan suhu memengaruhi pertumbuhan pohon dan serangga yang menjadi sumber makanan kungkang. Ketika musim tidak menentu, kungkang kesulitan menemukan makanan dan tempat berlindung.
Hutan yang semakin kering juga lebih rentan terhadap kebakaran, yang bisa menghancurkan habitat kungkang dalam waktu singkat. Sekali habitat musnah, sangat sulit bagi kungkang untuk menemukan tempat baru karena mereka tidak mampu bermigrasi jauh seperti burung atau hewan besar.
Mengapa Kungkang Sulit Berkembang Biak
Salah satu alasan kungkang sangat rentan punah adalah tingkat reproduksinya yang rendah. Seekor induk kungkang biasanya hanya melahirkan satu anak dalam satu periode kehamilan yang berlangsung sekitar enam bulan. Anak kungkang pun bergantung penuh pada induknya selama berbulan-bulan.
Jika induk mati akibat perburuan atau kecelakaan, peluang anaknya untuk bertahan hidup sangat kecil. Ini membuat populasi kungkang sangat sulit pulih meskipun ancaman telah dikurangi.
Penutup
Kungkang Sunda adalah simbol rapuhnya keanekaragaman hayati Indonesia. Di balik matanya yang besar dan gerakannya yang lambat, tersimpan kisah perjuangan untuk bertahan hidup di dunia yang terus berubah.
Melindungi kungkang berarti melindungi hutan, dan melindungi hutan berarti melindungi masa depan kita sendiri. Semoga suatu hari nanti, kungkang Sunda tidak lagi berada di ambang kepunahan, melainkan hidup bebas dan aman di rimba Nusantara, seperti yang seharusnya.
Baca fakta seputar : Animal
Baca juga artikel menarik tentang : Burung Cendana: Pesona Kecil yang Memikat di Hutan Nusantara




